Kamis, 10 Juni 2010

Technology Acceptance Model (TAM)

Technology Acceptance Model (TAM)

Technology Acceptance Model (TAM) dikembangkan oleh Fred Davis dan Richard Bagozzi (Bagozzi, Davis & Warshaw, 1992; Davis, Bagozzi & Warshaw, 1989). Dengan tujuan untuk memberikan penjelasan faktor yang menentukan penerimaan komputer secara umum, dan mampu menjelaskan sikap user dalam jangkauan yang sangat luas mencakup populasi dari end user terhadap teknologi komputerisasi dan manfaatnya.

Dari banyaknya jumlah studi yang telah dilakukan menggunakan sejumlah model penelitian, Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu model penelitian yang paling banyak digunakan. Sejumlah studi telah dilaksanakan berdasarkan Technology Acceptance Model (TAM) (Davis, 1989) pada berbagai konteks organisasi yang berbeda (Agarwal et al.1998, 1999; Chau, 1996; Chau et al., 2002, Dasgupta et al. 2002; Venkatesh et al., 2000a; Venkatesh et al., 2000b).

Dengan perkembangan internet, maka Technology Acceptance Model (TAM) juga telah digunakan untuk studi penggunaan teknologi internet (Pavlou, 2001; Gefen et Al., 2003), terutama ditujukan pada individu untuk melakukan pembelian secara online melalui internet. Selain itu Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model penelitian yang paling efektif dan secara luas digunakan (Lee, Kim & Chung, 2002). Untuk lebih jelasnya model Technology

Technology Acceptance Model (TAM), perceived usefulness dan perceived ease of use mempengaruhi attitudes toward using. Perceived usefulness dan attitudes toward using mempengaruhi behavioral intention to use. Behavioral intention to use mempengaruhi actual system use. External variables mempengaruhi behavioral intention to use melalui perceived usefulness dan perceived ease of use. Dan perceived ease of use mempengaruhi perceived usefulness dan attitudes toward using.

Model penelitian Technology Acceptance Model (TAM) dikembangkan dari model Theory of Reasoned Action (TRA). Sedangkan Theory of Reasoned Action (TRA) dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen (1975). Model Theory of Reasoned Action (TRA) digunakan untuk menganalisis keyakinan dan sikap-sikap pengguna untuk mengetahui adanya tujuan dan maksud pribadi.

Menurut Malhotra & Galletta (1999), Theory of Reasoned Action (TRA) merupakan model penelitian yang secara luas berasal dari psikologi sosial yang berhubungan dengan determinan tujuan pelaku yang dilakukan secara sadar. Menurut Ajzen & Fisbein (1975), suatu tindakan akan relevan dengan pengendalian sosial dalam keadaan sadar, oleh sebab itu tujuan seseorang untuk menjalankan suatu tindakan adalah faktor penentu yang positif untuk memprediksi suatu perilaku. Pada gambar 2.2 berikut ini disajikan model dari Theory of Reasoned Action (TRA).

Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Reasoned Action (TRA) memiliki kesamaan dalam unsur-unsur perilaku yang kuat, mengasumsikan bahwa ketika seseorang membentuk sebuah niat untuk bertindak, mereka akan bebas untuk bertindak tanpa batasan, namun menurut Bagozzi et al. (1992) di dunia nyata ada banyak kendala, salah satunya terbatasnya kebebasan untuk bertindak.

Model Theory of Reasoned Action (TRA) mempunyai batasan dalam memprediksi tujuan perilaku konsumen dan tidak mempunyai pengendalian terhadap kemauan pribadi melalui tingkah laku (Menurut Ajzen, 1991). Menurut Yarbrough & Smith (2007), model lain yang digunakan dalam prediksi adopsi teknologi informasi yaitu Theory of Planned Behavior (TPB). Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan perluasan dari Theory of Reasoned Action (TRA). Model Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan model penelitian yang sering digunakan untuk mempelajari, memprediksi dan penjelasan perilaku konsumen dalam konteks spesifik (Ajzen, 1991). Pada gambar 2.3 berikut ini disajikan model dari Theory of Planned Behavior (TPB).

Berbagai penelitian empiris pun telah banyak diajukan, seperti yang telah dinyatakan oleh Bertrand dan Bouchard (2008) bahwa sejumlah meta analisis pada TAM telah menunjukkan bahwa TAM adalah model yang valid, kuat dan sangat berkuasa.

Menurut Davis (1989) yang mengembangkan Technology Acceptance Model (TAM), penerimaan individu terhadap teknologi komputer dipengaruhi oleh perceived usefulness dan perceived ease of use. Perceived usefulness merupakan adanya tingkat kepercayaan seseorang bahwa dengan menggunakan sebuah sistem maka akan dapat meningkatkan kinerja pada suatu organisasi sedangkan perceived ease of use merupakan adanya tingkat kepercayaan seseorang bahwa menggunakan teknologi hanya memerlukan sedikit usaha. Kedua persepsi tersebut juga merupakan faktor motivasional utama untuk menerima dan menggunakan suatu teknologi baru (Martins dan Kellermanns, 2001).

Penelitian Kanungo Shivraj dan Jain Vikas (2004), mempelajari niat untuk membeli menggunakan website. Responden yang dituju adalah siswa yang lulus program MBA pada universitas di Washington DC, USA. Responden secara acak diminta untuk mengunjungi website Amazon (www.amazon.com) atau GE Appliances (www.geappliances.com) dengan menggunakan 183 responden dari 300 kuesioner yang disebarkan.

Pada penelitian Kanungo Shivraj dan Jain Vikas (2004), perceived risk, perceived usefulness, dan perceived ease of use dapat mempengaruhi intention to purchase secara langsung. Selain itu perceived risk merupakan mediator hubungan antara gender dan product category dengan intention to purchase. Perceived ease of use juga mempengaruhi perceived usefulness

0 komentar:

Posting Komentar