Senin, 14 Juni 2010

Pengertian Roman

Pengertian Roman

Roman adalah suatu jenis karya sastra yang merupakan bagian dari epik panjang. Dan dalam perkembangannya roman menjadi suatu karya sastra yang sangat digemari. Seperti yang dikemukakan Ruttkowski & Reichmann (1974 : 37) bahwa : “Der Roman hat sich seit den 16. Jahrhundert zur beliebigsten epischen Großform in der Prosa entwickelt.”
Sebagai karya sastra epik panjang, roman berisi paparan cerita yang panjang yang terdiri dari beberapa bab, di mana antara bab satu dengan yang lain saling berhubungan. Biasanya bercerita tentang suatu tokoh dari lahir sampai mati.
Kata roman sendiri berasal dari bahasa Perancis “romanz” abad ke-12, serta dari ungkapan bahasa Latin yaitu “ lingua romana”, yang dimaksudkan untuk semua karya sastra dari golongan rakyat biasa.(Matzkowski,1998:81).
Roman adalah suatu karya sastra yang disebut fiksi. Kata fiksi di sini berarti sebuah karya khayalan atau rekaan. Dengan kaitannya roman sebagai karya yang fiksi, Goethe mengatakan :
“Der Roman soll uns mögliche Begebenheiten unter unmöglichen oder beinahe unmöglichen Bedingungen als wirklich darstellen. der Roman ist eine subjective Epopöe, in welcher der Verfasser sich die Erlaubnis ausbittet, die Welt nach seiner Weise darzustellen” (Neis, 1981:13).

“Roman (seharusnya) mengambarkan peristiwa yang mungkin terjadi dengan kondisi yang tidak memungkinkan atau hampir tidak memungkinkan sebagai sebuah kenyataan. Roman adalah sebuah cerita subjektif, di dalamnya pengarang berusaha menggambarkan dunia menurut pendapatnya sendiri”.

Dari pengertian di atas dapat dittarik kesimpulan bahwa roman adalah sebuah karya gambaran dunia yang diciptakan oleh pengarangnya, yang di dalamnya menampilkan keseluruhan hidup suatu tokoh beserta permasalahannya, terutama dalam hubungan dengan kehidupan sosialnya.

Jenis Roman
Karya sastra yang akan dibahas oleh penulis adalah Bildsdungroman. Agar dapat memahami sebuah roman, kita harus bisa membedakannya dari roman-roman jenis lain. Roman diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pengutamaannya. Ruttkowski dan Reichman (1974 :23), mengatakan bahwa jika dalam sebuah roman lebih diutamakan penggambaran seseorang atau beberapa orang tokoh, maka roman itu disebut Figurenroman; atau penggambaran sebuah dunia, disebut Raumroman; atau pembentukan suatu tindakan yang menarik disebut Handlungsroman.
Berdasarkan penitikberatan cerita, roman dibagi dalam :
a. Roman Kriminal dan Detektif ( Krimi –und Detektivroman)
Sebuah roman kriminal menitikberatkan ceritanya kepada psikologi seorang penjahat, sedangkan dalam roman detektif lebih kepada teka-teki yang harus dipecahkan oleh detektif dengan kemampuan melacaknya.
b. Roman Petualangan ( Abendteuerroman)
Pada roman petualangan sang tokoh utama, baik sengaja maupun tidak sengaja terjebak dalam berbagai macam petualangan yang kebanyakan satu sama lain tidak berhubungan. Roman petualangan merupakan jenis sastra yang disukai pada segala zaman karena ceritanya yang menegangkan.
c. Roman Psikologi ( psychologischer Roman )
Dalam “Schüler Duden-Die Literatur” (1989:66) dijelaskan bahwa roman psikologi adalah jenis roman yang sedikit sekali menceritakan tentang perbuatan tokohnya, tetapi lebih kepada bagaimana keadaan batin tokoh. Pengarang lebih tertarik pada penggambaran kejiwaan dan karakter seorang manusia.

d. Roman Pencintaan (Liebesroman)
Dalam buku “Sachwörterbuch der Literatur” (Wilpert, 1989:513), dijelaskan sebagai berikut :
1. Bahwa dari segi bahan cerita, tema utama roman ini adalah percintaan zaman Romantik
2. Dalam artian yang lebih sempit, roman percintaan adalah jenis roman picisan (Trivialroman) untuk pembaca wanita, yang kebanyakan menyangkut sisi kepahlawanan wanita yang klise dan idealis dengan gaya bahasa picisan sampai kepada akhir bahagia yang tidak dapat dihindarkan dan tidak realistis(Wilpert, 1989:513).
e. Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
Roman ini dibuat untuk memuaskan keinginan para pembaca terhadap hiburan. Dibandingkan dengan yang lebih berkelas (gehobene Literatur), jenis roman ini tidak bercerita tentang perselisihan yang mendalam dengan permasalahan yang mengharukan seperti juga melalui bentuk-bentuk baru pada gaya dan penggambaran, agar tidak menyulitkan pembaca untuk mengerti jalan ceritanya. Kebanyakan roman ini berakhir dengan bahagia.
f. Roman Anak dan Remaja (Kinder-und Jugendroman)
Tema, bahan cerita, dan bentuk roman ditulis untuk anak dan remaja, dan biasanya terdapat aspek untuk menghibur, mengajar dan mendidik. Dalam roman ini biasanya disertai dengan dengan gambar ilustrasi yang bertujuan agar pembaca mudah memahami isi cerita yang disajikan. Prinsip dasar roman ini adalah adaptasi/asimilasi : kalimat – kalimat yang terdapat dalam roman harus disesuaikan dengan psikologi anak dan remaja.(Groschenek, 1979 :7)
g. Roman pendidikan (Bildsdungsroman)
Tema dan isi cerita dalam roman ini menitik beratkan pada perkembangan pendidikan tokoh utama dalam cerita. Oleh W. Dilthey roman ini disebut roman zaman klasik dan romantik. Pendidikan mempunyai arti “ kemanusiaan yang sempurna (vollendeter Humanität). Roman pendidikan dimaksudkan untuk roman yang bercerita tentang perkembangan kejiwaan dan karakter seorang manusia (1989 : 66).
Menurut Metzler Lexikon Literatur roman terbagi atas beberpa bagian yang besar yaitu berdasarkan materi, berdasarkan tema, berdasarkan teknik penceritaan, berdasarkan sasaran, dan berdasarkan tuntutan.
a. Roman berdasarkan materi (Roman nach Stoffen und dargestelltem Personal) : roman petualangan (Abendteuerroman), roman pahlawan (Ritterroman), roman kriminal (Kriminalroman), roman perjalanan (Reiseroman)
b. Roman berdasarkan tema (Roman nach Themen und behandelten Problemen) : roman percintaan (Liebesroman), roman pendidikan (Erziehungsroman), roman sosial (Gesellschaftsroman)
c. Roman berdasarkan teknik penceritaan (Roman nach dem Erzählverfahren) : roman orang pertama (Ich-Romane), Roman orang kedua (Er-Romane)
d. Roman berdasarkan sasaran (Roman nach dem Addresatten) : roman perempuan (Frauenroman), roman remaja (Jugendmädchenroman), roman anak-anak (Kinderroman)
e. Roman berdasarkan tuntutan (Roman nach Anspruch und Verfahrenweise) : roman picisan (Trivialroman), roman hiburan (Unterhaltungsroman)

Unsur Intrinsik dalam Roman
Dalam mengkaji suatu karya sastra, kita tidak akan bisa lepas dari apa yang membangun suatu karya sastra itu sendiri, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Unsur intrinsik dalam suatu karya sastra, dalam hal ini adalah roman, yaitu unsur – unsur yang terdapat di dalam karya sastra itu sendiri yang akan ditemukan oleh para pembaca seperti tema, alur, tokoh dan penokohan, gaya bahasa, sudut pandang, dan latar, sedangkan unsur ekstrinsik sendiri adalah unsur yang mempengaruhi karya sastra namun tidak menjadi bagian di dalamnya biografie pengarang, keadaan politik, dan ekonomi.
Berikut akan dijabarkan unsur – unsur intrinsik yang membangun suatu roman untuk menjadi suatu karya sastra yang utuh.
Tema
Dalam suatu karya sastra pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui hasil karyanya. Sesuatu yang berupa gagasan atau ide yang mendasari karya sastra tersebut disebut tema.
Der Begriff “Thematik” bezeichnet den eigentlichen Aussagegehalt, das, was man gemeinhim “Sinn”, “Gehalt”, “Problematik” oder gelegenlicht gar “Anliegen” nennt (Gutzen, 1997:13).


Definisi “Thematik” (isi pokok pembicaraan/uraian/karangan; Heuken, 1993:505) menunjukkan suatu majna karya sastra yang sesungguhnya yang biasa disebut suatu “arti”, “isi”, “permasalahan”, atau terkadang disebut juga sebagai “keinginan”.

Jenis roman yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Bildsdungroman (roman pendidikan) yang menitikberatkan tema pada perkembangan dari tokoh utama baik secara kejiwaan dan batiniah.
Alur
Alur meliputi bahan cerita dari roman, maupun isi cerita dari roman, serta struktur bangunan cerita. Di dalam struktur bangunan cerita dapat dilihat isi cerita yang terangkai dari unsur – unsur cerita.
Pada dasarnya sebuah cerita tersusun dari beberapa rangkaian peristiwa. Dan peristiwa itu sendiri dapat diartikan sebagai, “peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain”(Luxemburg dalan Nurgiyantoro, 1995 : 117), sedangkan kaitan antarperistiwa yang menimbulkan sebab akibat disebut alur atau plot.
Untuk menghasilkan suatu cerita yang bersifat padu dan utuh diperlukan alur yang memiliki sifat keutuhan dan kepaduan pula. Menurut Aristoteles, untuk memenuhi kriteria tersebut sebuah alur harus terdiri dari “tahap awal (beginnign), tahap tengah (midle), dan tahap akhir (end)” (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1995 : 142)

0 komentar:

Posting Komentar